Senin, 23 April 2012
Pembelajar Sejati: JANGAN JADIKAN AKU ISTRIMU...
Pembelajar Sejati: JANGAN JADIKAN AKU ISTRIMU...: Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain. kamu harus tahu meski bosan mendengar suara...
Jumat, 20 April 2012
Kamis, 12 April 2012
Senin, 09 April 2012
smanUSA kreatif belajar seNi rUpa: tikar pandan khas gresik
smanUSA kreatif belajar seNi rUpa: tikar pandan khas gresik: Nama : Dian islami amalia Kelas : X-4 No.Absen : 6 keunikan gagasan : produk kerajinan anyaman pandan (pandanus handicraft) akan menjadi...
Jumat, 06 April 2012
Terwujudnya NKRI dan Perjuangan Mujahidin Aceh
Posted by : Azzan Djuli El-Asyi
» On 06 -
Agu -
2011
Negara Republik Indonesia
merupakan salah satu Negara besar yang berpenduduk muslim terbesar di
dunia. Ia wujud lewat perlawanan jangka panjang para pejuang muslim
melawan penjajah Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang.
Pada
dasarnya tidak ada yang mengenal apa itu Indonesia, atau Republik
Indonesia (RI), lebih-lebih lagi Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Namun selepas keberangkatan para penjajah dari wilayah yang hari
ini bernama Indonesia terutama sekali pasca penjajahan Belanda,
Soekarno dan Muhammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden
Indonesia yang pertama mengklaim semua bekas jajahan Belanda adalah
Republik Indonesia.
Karena penghuni wilayah tersebut
masih sangat lelah akibat perang yang berkepanjangan, maka hampir semua
mereka menerimanya dan tidak ada yang menolak atau mandirikan negara
selain Indonesia.
Khusus untuk para
pejuang-pejuang Aceh, waktu itu tidak terpikirkan kalau Indonesia dahulu
menjadi Indonesai hari ini yang bringas terhadap Aceh. Karenanya
bergabung dengan Indonesia dengan target memperluas wilayah Islam dan
menjadikan Indonesia yang Islami menjadi impian mereka tatkala itu.
Namun apa hendak dikata, dunia semakin majemuk, pengaruh globalisasi
merambas kemana-mana, termasuklah ke Indonesia. Maka Indonesia yang
diimpikan dahulu menjadi jauh panggang dari api dan jauh dari kenyataan
yang diidamkan. Akibatnya, Indonesia yang tidak berdasar seperti Aceh
kini eksis sebagai salah satu negara di permukaan bumi.
Sementara para mujahidin Aceh
yang membebaskan Indonesia dari penjajah Belanda tertelan masa dan
nama-nama mereka hilang dalam peredaran sejarah Indonesia. Malah
orisinal sejarah disembunyikan penguasa Indonesia dari masa ke masa
sehingga anak-anak sekolah tidak mengenal sejarah Aceh, negeri Aceh dan
pejuang Aceh yang sebenarnya.
NKRI yang diagung-agungkan
selama ini sama sekali tidak berakar seperti Kerajaan Aceh Darussalam,
Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Ngurah Rai, Kerajaan
Kutai dan sebagainya. Baik secara resmi atau tidak ia merupakan kumpulan
wilayah-wilayah kerajaan tersebut kemudian diberi nama Indonesia oleh
penguasa di awal kemerdekaannya. Karena sifatnya tidak berakar maka ia
akan mudah tumbang, cuma masanya saja yang sulit diprediksikan. Tambah
lagi dengan operasional dan servis penguasa Indonesia terhadap rakyatnya
tercatat sangat amat buruk dan jelek dari masa ke masa sehingga hari
ini.
Para pejuang muslim Aceh
berperang melawan penjajah dari zaman kezaman lebih disebabkan oleh
faktor aqidah dan ideologi Islam. Jadi bukan semata mata hendak
mewujudkan Republik Indonesia. Buktinya, ketika para pemimpin Indonesia
berbuat dhalim terhadap muslim dan Islam, bangsa Aceh tidak segan-segan
melawannya seperti dalam kasus DI/TII, kasus GAM dan sebagainya. Jadi
perjuangan kaum mujahidin Aceh dahulu sama sekali tidak terpengaruh
dengan sistem hidup nasionalisme, sekularisme dan liberalisme
sebagaimana yang menimpa kebanyakan muslim Indonesia hari ini.
Karenanya, wujud NKRI sulit
dipisahkan dengan perjuangan mujahidin Aceh, ia tidak bakal ada sama
sekali kalau Aceh dan bangsanya tidak mempertahankan perang Medan Area,
membeli pesawat terbang pertama untuk Indonesia, menyiarkan
berita-berita akurat melalui Radio Rimba Raya di Kabupaten Bener Meriah
sehingga penjajah Belanda gagal menguasai Aceh dan sekaligus eksistensi
NKRI wujud serta diakui oleh dunia luar.
Peran Mujahidin Aceh sebagai Penegak NKRI
Tidak dapat disangkal lagi bahwa
wujudnya NKRI lebih didominasi oleh perjuangan dan perlawanan para
mujahidin Aceh yang mempertahankan invasi Belanda kedua tahun 1948. Pada
masa tersebut seluruh wilayah RI sudah dikuasai kembali oleh penjajah
Belanda kecuali Aceh. Ketika itu Soekarno dan Muhammad Hatta selaku
Presiden dan Wakil Presiden sudah ditangkap penjajah, Syafruddin
Prawiranegara selaku Presiden Darurat Republik Indoonesia (PDRI) sudah
hijrah ke Kutaraja (Banda Aceh) dan dibiayai oleh masyarakat Aceh
sepenuhnya.
Dalam
suasana seumpama itu Aceh juga membiayai para pejuang di kawasan
Sumatera Barat dan Sumatera Timur dengan mengirim ber ton-ton beras,
kerupuk mulieng, lembu kerbau dan sebagainya sebagai bekal
mempertahankan wilayah RI sehingga ia wujud seperti hari ini.
Di luar negeri, biaya duta keliling Haji Agussalim, Dr. Sudarsono di India, biaya Konferensi Asia di New Delhi dan biaya hidup L.N.Palar selaku duta Indonesia di PBB New York juga ditanggung oleh masyarakat Aceh sehinga NKRI wujud di permukaan bumi ini. bahkan biaya untuk perwakilan R.I. di Pulau Pinang dan Singapura juga ditanggung oleh orang Aceh.[1] Dengan demikian tidak salah kalau kesimpulan sedikit kental diambil bahwa NKRI sebetulnya ditegakkan dan diwujudkan oleh para mujahidin Aceh yang menginginkan Islam dan hukumnya berlaku penuh di dalamnya.
Di luar negeri, biaya duta keliling Haji Agussalim, Dr. Sudarsono di India, biaya Konferensi Asia di New Delhi dan biaya hidup L.N.Palar selaku duta Indonesia di PBB New York juga ditanggung oleh masyarakat Aceh sehinga NKRI wujud di permukaan bumi ini. bahkan biaya untuk perwakilan R.I. di Pulau Pinang dan Singapura juga ditanggung oleh orang Aceh.[1] Dengan demikian tidak salah kalau kesimpulan sedikit kental diambil bahwa NKRI sebetulnya ditegakkan dan diwujudkan oleh para mujahidin Aceh yang menginginkan Islam dan hukumnya berlaku penuh di dalamnya.
Ketika wilayah RI dahulu dijajah
Belanda, pejuang-pejuang Aceh dengan gigih dan giat berupaya
membebaskannya dengan berbagai cara. Salah satu cara yang cukup
signifikan adalah membeli pesawat terbang yang menjadi pesawat terbang
pertama buat Indonesia. Bangsa Aceh mengumpulkan dana, emas dan
benda-benda lain untuk keperluan tersebut yang berjumlah banyak.
20 kilogram emas murni beserta sejumlah dana yang berkumpul di tangan Ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) Muhammad Joened Joesoef pada tanggal 1 bulan Agustus 1948 segera diberangkatkan ke Singapura untuk diserahkan kepada ketua komisi pembelian pesawat terbang opsir udara II Wiweko, menjelang tiga bulan kemudian sebuah pesawat Dakota berjaya diterbangkan ke Indonesia akhir bulan Oktober 1948.[2]
20 kilogram emas murni beserta sejumlah dana yang berkumpul di tangan Ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) Muhammad Joened Joesoef pada tanggal 1 bulan Agustus 1948 segera diberangkatkan ke Singapura untuk diserahkan kepada ketua komisi pembelian pesawat terbang opsir udara II Wiweko, menjelang tiga bulan kemudian sebuah pesawat Dakota berjaya diterbangkan ke Indonesia akhir bulan Oktober 1948.[2]
Yang tidak kalah penting dan
lebih signifikan lagi adalah peran Radio Rimba Raya yang bermarkas di
Krueng Simpo Kabupaten Bener Meriah. Radio ini telah berhasil menyiarkan
berita keluar negeri bahwa Aceh masih tetap eksis dan para pejuang
tetap melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dengan demikian
dunia luar tidak mengakui klaim Belanda bahwa Indonesia telah dikuasai
mereka. Karena Aceh masih eksis dan berjuang untuk kemerdekaan RI maka
RI wujud atas perjuangan para mujahidin Aceh, dan penjajah Belanda
kemudian kewalahan dan gagal menaklukkan Aceh yang sekaligus gagal
menaklukkan RI.
Satu hal yang harus diingat
dalam masa perlawanan tersebut adalah; perlawanan dan perjuangan bangsa
Aceh terhadap penjajah Belanda dilatarbelakangi oleh faktor keimanan,
ketauhidan dan aqidah yang kuat. Muslim Aceh menginginkan apabila
penjajah kalah dan negara wujud maka mereka ingin hidup dalam nuansa
aqidah Islamiyah, Syariah Allah dan Akhlak mulya dalam negara yang sudah
sangat lelah diperjuangkan tersebut.
Perang yang mereka lakukan adalah perang suci di jalan Allah (Jihad fi sabilillah). Mereka mau berperang karena ingin menegakkan agama Allah bukan ingin menjadi presiden, menteri, gubernur, bupati dan sebagainya. Target utama yang ingin mereka capai adalah menang dengan dapat menegakkan Hukum Allah (Syariïah) atau meninggal dengan memperoleh gelar Syuhada (mati syahid).
Perang yang mereka lakukan adalah perang suci di jalan Allah (Jihad fi sabilillah). Mereka mau berperang karena ingin menegakkan agama Allah bukan ingin menjadi presiden, menteri, gubernur, bupati dan sebagainya. Target utama yang ingin mereka capai adalah menang dengan dapat menegakkan Hukum Allah (Syariïah) atau meninggal dengan memperoleh gelar Syuhada (mati syahid).
Asal muasal NKRI
Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) yang berbatas dari Sabang sampai Marauke secara
historis memang sama sekali tidak berakar dan tidak berazas. Dalam
wilayah NKRI hari ini yang pernah berakar dan berazas adalah Kerajaan
Aceh Darussalam, Kerajaan Samudera Pase di Aceh, Kerajaan Siak di
Sumatera Utara, Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Kerajaan Majapahit di
Jawa, Kerajaan Ngurah Rai di Bali, Kerajaan Kutai di Kalimantan, dan
sejumlah kerajaan lain di kawasan timur dan barat Indonesia.
Karena ia sudah tercatat dalam
peta dunia dan tercantum dalam buku besar Perserikatan Bagsa-bangsa
(PBB) sebagai organisasi dunia, maka resmi dan sahlah Republik Indonesia
sebagai sebuah negara dalam pandangan dunia internasional. Walaupun
tidak berakar dan tidak berazas tetapi dunia sudah mengakui bahwa
Republik Indonesia merupakan sebuah negara sah di permukaan bumi ini.
Kalau ada pihak-pihak yang mau membatalkan pengakuan tersebut maka ia
harus menghancurkan RI di permukaan bumi atau menggantikannya dengan
nama lain beserta dengan format yang lain pula. Dan ini merupakan tugas
berat bagi siapa saja yang menginginkannya.
Dari sudut pandang historis,
NKRI sama sekali tidak punya dasar sejarah sebagaimana dasar sejarah
bagi Keraaan-kerajaan lain di kepulauan Melayu. Dari segi sosiologis, ia
sama sekali tidak mampu mengelola dan menyejahterakan rakyatnya yang
berjumlah sangat banyak. Dari segi politis, NKRI selalu goyah, pecah
dalam komunitas, terancam ambruk, diobok-obok pihak luar dan kacau balau
dalam lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Dalam usia yang sudah melebihi setengah abad hari ini, NKRI sama sekali tidak bermarwah di luar negeri, warga negara RI yang bekerja di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Australia dan di negara-negara Arab dipandang sebelah mata oleh mereka. Hal ini terjadi belum tentu karena mereka sombong dan arogan, tetapi lebih disebabkan oleh kebodohan dan kedunguan serta kejahatan yang dilakukan warga negara RI sendiri sehingga dipandang hina.
Dalam usia yang sudah melebihi setengah abad hari ini, NKRI sama sekali tidak bermarwah di luar negeri, warga negara RI yang bekerja di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Australia dan di negara-negara Arab dipandang sebelah mata oleh mereka. Hal ini terjadi belum tentu karena mereka sombong dan arogan, tetapi lebih disebabkan oleh kebodohan dan kedunguan serta kejahatan yang dilakukan warga negara RI sendiri sehingga dipandang hina.
Untuk melambangkan kehinaan warga negara RI yang bekerja di luar negeri, di Malaysia dan Singapura mereka dipanggil Indon , di Arab Saudi disebut Siti Rahmah ,
dan sudah barang tentu di tempat-tempat lain tentu ada nama lain pula
sebagai ciri khas buat bangsa Indonesia yang tidak punya azas utama buat
negara mereka. Mata uang rupiah sebagai mata uang resmi RI teramat
sangat sulit digunakan di luar negeri. Untuk menukarkan rupiah dengan
mata uang asing di Singapura dan Australia, tidak semua authorised money
changers mau menerimanya. Jadi warga negara RI yang berkunjung ke sana
harus siap-siap dengan mata uang asing sebelum berangkat kesana.
Begitulah sekilas potret NKRI
yang hari ini sudah berusia lebih setengah abad namun kemampuan untuk
menjalankan tugas wajibnya sama sekali belum terpatri. Diramalkan sampai
kapanpun NKRI tidak mampu menyejahterakan kehidupan rakyat,
menstabilkan kehidupan politik, memajukan kehidupan teknologi dan
mengamankan kehidupan beragama sebelum ia lepas dari kungkungan luar
yang mendektekan eksistensi NKRI dalam berbagai dimensi kehidupan. Atau
ia baru lurus berjalan mulus apabila NKRI yang berazaskan Pancasila
berganti dengan nama lain yang wujud berlainan dengan pentadbiran yang
lain pula.
***
Oleh Hasanuddin Yusuf Adan
Catatan Kaki :
[1] M. Nur El Ibrahimy, Teungku Muhammad Dawud Beureu-�h, Jakarta: Gunung Agung, 1986, hal., 44. Lihat juga A.K. Jakobi, Aceh Dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945-1949 dan Peran Teuku Hamid Azwar sebagai Pejuang, Jakarta: Gramedia & Seulawah RI 001 1998, hal., 276-278.
[2] Ibid.
[3] S.S. Djuangga Batubara, Teungku Tjhik Muhammad Dawud di Beureu-�h Mujahid Teragung di Nusantara, Medan: Gerakan Perjuangan dan Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, 1987, hal., 128.
Read more: http://www.atjehcyber.net/2011/08/eksistensi-nkri-dan-perjuangan.html#ixzz1rFJ7Pv6K
Kamis, 05 April 2012
Jejak Riwayat Ulama Aceh di Mesir
Sejarah ulama Aceh yang belajar-mengajar dan mencari Ilmu serta membina kader-kader Islam, mahsyur hingga ke pelosok Nusantara. Diantaranya Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib Asyi.
Syeikh
Ismail bin Abdul Muthalib Asyi, tidak banyak dikenal oleh generasi Aceh
kini. Padahal karya Tajul Muluk, sering dibaca sampai sekarang. Sebelum
berangkat ke Mekkah beliau berguru pada Syeikh Ali Asyi di Aceh, dan
sewaktu beliau berada di Mekkah diantara guru gurunya adalah, Syeikh
Daud bin Abdullah Al Fathani dan Syeikh Ahmad al-Fathani.
Kedua
ulama ini memang sangat disegani, tidak hanya di tanah Arab, tetapi
juga di rantau Melayu, seperti di Aceh, Pattani, dan Kelantan. Syeikh
Ismail bin Abdul Muthalib Asyi, agaknya tidak lepas dari jaringan
keilmuan Nusantara ini. Kendati, sampai sekarang hampir tidak ada
peneliti yang berani melakukan pengkajian terhadap biografinya secara
lengkap.
Aceh,
pulau jawa, sumatera, dan juga Kalimantan, ada kitab yang selalu dibaca
oleh kaum santri atau siapapun yang tertarik dengan ilmu pegobatan,
yakni Kitab Tajul Muluk. Kitab ini menggunakan bahasa Jawi (jawoe), maka
siapapun bisa membacanya bila mengerti.
Anak
Aceh yang sudah belajar di pesantren modern atau Madrasah ‘Aliyah,
diantara cita-cita mereka adalah bisa belajar di Kairo, Mesir. Negeri
yang sudah mencetak ribuan ulama, bahkan tidak sedikit jiwa pembaruan di
Nusantara, disemai dari mereka yang pernah menimba ilmu di Mesir.
Sehingga
anak muda Aceh yang merantau ke Mesir itu tidak sedikit. Saat ini sudah
ada yang berbakti di Darussalam, seperti Prof. Dr. Tgk. Muslim Ibrahim.
Juga ada Prof. Dr.Tgk. Azman Ismail (Imam Besar Masjid Raya
Baiturrahman Banda Aceh). Di dalam era kontemporer, dunia Islâm di Aceh
memang tidak dapat dilepaskan dari tradisi keilmuan Islam yang
didapatkan oleh sarjana-sarjana Aceh yang pernah menuntut ilmu di Kairo
ini.
Ini
merupakan impian setiap anak muda Aceh, yang mau menuntut ilmu ke
mesir. Karena mesir gudangnya Ilmu Pengetahuan, dan Mesir tempat Ilmu
pertama kali yang terbaik dalam hal masalah agama dan Ilmu pengobatan.
Selain
Tajul Muluk, ada karyanya yang masih ada sampai saat ini adalah Jam’u
Jawami’il Mushannifat. Salah satu kitab yang wajib dibaca di
dayah-dayah, tidak hanya di Aceh, melainkan juga di Pattani dan
Kelantan. Di dalam kitab tersebut, Syeikh Ismail menulis sepenggal
kalimat yang sangat puitis:
Di
dalam hal ini, Syeikh Ismail selain mentashihkan kitab-kitab ulama Aceh
pada saat itu agar mudah dibaca umum. Selain itu ia juga mengarang
kitab sendiri seperti Muqaddimatul Mubtadi-in, yang dicetak oleh
Mathba’ah al-Miriyah, Mekah, 1307 Hijrah/1889 Masehi. Tuhfatul Ikhwan fi
Tajwidil Quran, diselesaikan pada waktu Dhuha hari Jumaat dua likur
Jamadilawal 1311 Hijrah/1893 Masehi. Cetakan pertama Mathba’ah
al-Miriyah al-Kainah, Mekah, 1311 Hijrah/1893 Masehi. Terdapat lagi
cetakan Mathba’ah al-Miriyah, Mekah, 1324 Hijrah/1906 Masehi, Fat-hul
Mannan fi Bayani Ma’na Asma-illahil Mannan, diselesaikan tahun 1311
Hijrah/1893 Masehi. Cetakan kedua oleh Mathba’ah al-Miriyah al-Kainah,
Makkah, 1311 Hijrah/1893 Masehi, Fat-hul Mannan fi Hadits Afdhal Waladi
‘Adnan, diselesaikan tahun 1311 Hijrah/1893 Masehi.
Berawal
dari kisah Syeikh Ismail bin Abdul Muthalib al-Asyi, lalu mencoba
mencari apakah ada ulama Aceh yang cukup disegani di Mesir? Dalam
beberapa ‘catatan tercecer’ telah dikupas beberapa nama ulama Aceh di
Mekkah serta jasa mereka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di
Mekkah berikut Serambinya (Aceh). Tanpa sengaja kemudian tersentak bahwa
pengarang kitab Tajul Muluk adalah ulama Aceh yang pernah menetap di
Mesir. Lagi-lagi, nama beliau tidak pernah terdengar di Aceh, walaupun
hanya untuk nama jalan, seperti yang terlihat sekarang, dimana ada
nama-nama ulama besar hanya dijadikan sebagai nama-nama jalan di kota
besar Aceh.
Wan
Muhammad Sangir Abdullah, pengumpul hasil karya ulama Nusantara,
mengatakan bahwa Syeikh Ismail Abdul Muthalib Asyi, setelah lama belajar
dan mengajar di Mekkah oleh gurunya Syeikh Ahmad Fathani mengirim
beliau ke Mesir untuk mengurus dan membina kader kader muda Islam
Nusantara yang lagi belajar di Al Azhar Kairo bersama Syeikh Muhammad
Thahir Jalaluddin, Syeikh Ahmad Thahir Khatib, Syeikh Abdurrazak bin
Muhammad Rais, dan Syeikh Muhammad Nur Fathani.
Sesampainya
di sana beliau mendirikan wadah pemersatu pelajar pelajar Nusantara
disana dan beliau diangkat menjadi ketua pertama persatuan pelajar
pelajar Melayu di Mesir oleh gurunya Syeikh Ahmad Fathani. Syeikh Ismail
Asyi meninggal dunia di Mesir dan sedangkan keturunannya ramai menetap
di Makkah. Sampai sekarang belum diketahui dimana pusaranya. Namun, jasa
dan embrio keilmuan yang ditiupkan oleh Syeikh Ahmad Fathani kepada
Syeikah Ismail Abdulmuthalib Asyi sudah berhasil. Buah dari hijrah ini
sudah dapat kita rasakan sampai hari ini, tidak hanya bagi orang Aceh,
tetapi juga bagi umat Islâm di Indonesia, Malaysia, dan Thailand
Selatan.
Inilah
kisah kecil dan peran Syeikh Ismail bin Abdulmuthalib Asyi. Ada banyak
hal yang perlu dipelajari lebih lanjut. Perlu dilacak lagi bagaimana
jaringan keilmuannya di Mesir. Sehingga ada ‘alasan sejarah’ mengapa
generasi Aceh selalu bermimpi untuk menuntut ilmu ke negeri itu. kisah
ini ternyata sudah dilakukan oleh Syeikh Ismail Abdulmuthalib Asyi
melalui dorongan dari gurunya yang berasal dari Pattani. Untuk itu, kita
berharap nama ulama ini bisa mendapat tempat yang terhormat di Aceh,
tidak lantas kemudian menjadi nama-nama jalan di kota besar.
Menghormati
dan menghargai ulama, adalah dengan cara membaca karyanya dan berdoa
atas jasa yang telah diberikan kepada kita saat ini. Begitu banyak
manfaat kitab Tajul Muluk, namun tidak seimbang dengan pengetahuan
pembaca akan penulis kitab ini. Akhirnya ‘sejarah tercecer’ dan tersebar
entah kemana, kali ini bisa menjadi perhatian bagi masyarakat dan
pemerintah Aceh. Sudah saatnya digagas untuk menulis dan mencari dimana
ulama-ulama Aceh di Timur Tengah..Kita berharap ada upaya nyata dari
pemerintah untuk menggali dan mencari jejak-jejak ulama Aceh, yang telah
berjasa dalam pengembangan keislaman dan keilmuan sehingga menjadi
iktibar bagi generasi Aceh selanjutnya.
Secara
sejarah, modernisasi pendidikan di Mesir berawal dari pengenalan
kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi Napoleon Bonaparte pada saat
penaklukan Mesir. Kemajuan ilmu pengetahuan dan tehnologi yang dicapai
Napoleon Bonaparte yang berkebangsaan Perancis ini, memberikan inspirasi
yang kuat bagi para pembaharu Mesir untuk melakukan modernisasi
pendidikan di Mesir yang dianggapnya stagnan. Diantara tokoh-tokoh
tersebut Jamaluddin al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Muhammad Ali Pasha.
Dua yang terakhir, secara historis, kiprahnya paling menonjol jika
dibandingkan dengan tokoh-tokoh yang lain. Sistem Pendidikan di negara
Mesir meliputi: Sekolah Dasar (Ibtida’i); Sekolah Menengah Pertama
(I’dadi); Sekolah Menengah Atas (Tsanawiyah ‘Ammah); Pendidikan Tinggi.
Mesir
dengan luas wilayah sekitar 997.739 km², mencakup Semenanjung Sinai
(dianggap sebagai bagian dari Asia Barat Daya), sedangkan sebagian besar
wilayahnya terletak di Afrika Utara. Mesir berbatasan dengan Libya di
sebelah barat, Sudan di selatan, jalur Gaza dan Israel di utara-timur.
Perbatasannya dengan perairan ialah melalui Laut Tengah di utara dan
Laut Merah di timur.
Asal
nama Mesir, Orang Qibti (Mesir kuno) menyebut negeri ini di zaman
dahulu dengan istilah Kemy dan Takemy yang berarti hitam atau tanah yang
hitam, sebagai simbol dari warna tanah yang subur. istilah Mesir paling
kuno adalah Tawey yang berarti dua tanah. Karena secara geografis Mesir
terbagi kepada dua, Tasymaao (dataran tinggi) dan Tsameho (permukaan
laut atau ardh wajhul bahri). Nama ini muncul sejak akhir 4000 tahun SM.
[modusaceh.com]
Read more: http://www.atjehcyber.net/2011/11/jejak-riwayat-ulama-aceh-di-mesir.html#ixzz1rE4HepsU
Indatu “Ureung Pidie”
Selama ini kita mengetahui asal mula daerah Pidie sekarang adalah Kerajaan Poli atau Kerajaan Pedir, Namun ternyata jauh sebelumnya Pidie telah memiliki sebuah Kerajaan yang bernama Kerajaan Sama Indra sebagai cikal bakalnya.
Oleh Iskandar Norman
Sebuah buku lama yang ditulis
sejarawan M Junus Djamil yang disusun dengan ketikan mesin tik,
mengungkapkan hal itu. Buku dengan judul “Silsilah Tawarick Radja-radja
Kerajaan Aceh” Buku yang diterbitkan oleh Adjdam-I/Iskandar Muda tidak
lagi jelas tahun penerbitnya. Tapi pada kata pengantar yang ditulis
dengan ejaan lama oleh Perwira Adjudan Djendral Kodam-I/Iskandar Muda, T
Muhammad Ali, tertera 21 Agustus 1968.
Buku setebal 57 halaman itu pada
halaman 24 berisi tentang sejarah Negeri Pidie/Sjahir Poli. Kerajaan
ini digambarkan sebagai daerah dataran rendah yang luas dengan tanah
yang subur, sehingga kehidupan penduduknya makmur.
Batas-batas kerajaan ini
meliputi, sebelah timur dengan Kerajaan Samudra/Pasai, sebelah barat
dengan Kerajaan Aceh Darussalam, sebelah selatan dengan pegunungan,
serta dengan selat Malaka di sebelah utara.
Suku
yang mendiami kerajaan ini berasal dari Mon Khmer yang datang dari Asia
Tenggara yakni dari Negeri Campa. Suku Mon Khmer itu datang ke Poli
beberapa abad sebelum masehi. Rombongan ini dipimpin oleh Sjahir Pauling
yang kemudian dikenal sebagai Sjahir Poli. Mereka kemudian berbaur
dengan masyarakat sekitar yang telah lebih dahulu mendiami kawasan
tersebut.
Setelah berlabuh dan menetap di
kawasan itu (Pidie-red), Sjahir Poli mendirikan sebuah kerajaan yang
dinamai Kerajaan Sama Indra. Waktu itu mereka masih menganut agama Budha
Mahayana atau Himayana. Oleh M Junus Djamil diyakini dari agama ini
kemudian masuk pengaruh Hindu.
Lama kelamaan Kerajaan Sama
Indra pecah mejadi beberapa kerajaan kecil. Seperti pecahnya Kerajaan
Indra Purwa (Lamuri) menjadi Kerajaan Indrapuri, Indrapatra, Indrapurwa
dan Indrajaya yang dikenal sebagai kerajaan Panton Rie atau Kantoli di
Lhokseudu.
Kala itu Kerajaan Sama Indra
menjadi saingan Kerajaan Indrapurba (Lamuri) di sebelah barat dan
kerajaan Plak Plieng (Kerajaan Panca Warna) di sebelah timur. Kerajaan
Sama Indra mengalami goncangan dan perubahan yang berat kala itu,
Menurut M Junus Djamil, pada
pertengahan abad ke-14 masehi penduduk di Kerajaan Sama Indra beralih
dari agama lama menjadi pemeluk agama Islam, setelah kerajaan itu
diserang oleh Kerajaan Aceh Darussalam yang dipimpin Sultan Mansyur Syah
(1354 – 1408 M). Selanjutnya, pengaruh Islam yang dibawa oleh
orang-orang dari Kerajaan Aceh Darussalam terus mengikis ajaran hindu
dan budha di daerah tersebut.
Setelah kerajaan Sama Indra
takluk pada Kerajaan Aceh Darussalam, makan sultan Aceh selanjutnya,
Sultan Mahmud II Alaiddin Johan Sjah mengangkat Raja Husein Sjah menjadi
sultan muda di negeri Sama Indra yang otonom di bawah Kerajaan Aceh
Darussalam. Kerajaan Sama Indra kemudian berganti nama menjadi Kerajaan
Pedir, yang lama kelamaan berubah menjadi Pidie seperti yang dikenal
sekarang.
Meski sebagai kerajaan otonom di
bawah Kerajaan Aceh Darussalam, peranan raja negeri Pidie tetap
dipererhitungkan. Malah, setiap keputusan Majelis Mahkamah Rakyat
Kerajaan Aceh Darussalam, sultan tidak memberi cap geulanteu (stempel
halilintar) sebelum mendapat persetujuan dari Laksamana Raja Maharaja
Pidie. Maha Raja Pidie beserta uleebalang syik dalam Kerajaan Aceh
Darussalam berhak mengatur daerah kekuasaannya menurut putusan balai
rakyat negeri masing-masing.
Masih menurut M Junus Djamil,
setelah Sultan Mahmud II Alaiddin Jauhan Syah raja Kerajaan Aceh
Darussalam Mangkat, maka Sultan Husain Syah selaku Maharaja Pidie
diangkat sebagai penggantinya. Ia memerintah Kerajaan Aceh dari tahun
1465 sampai 1480 Masehi. Kemudian untuk Maharaja Pidie yang baru
diangkat anaknya yang bernama Malik Sulaiman Noer. Sementara putranya
yang satu lagi, Malik Munawar Syah diangkat menjadi raja muda dan
laksamana di daerah timur, yang mencakup wilayah Samudra/Pase,
Peureulak, Teuminga dan Aru dengan pusat pemerintahan di Pangkalan Nala
(Pulau Kampey).
***
Read more: http://www.atjehcyber.net/2011/10/indatu-ureung-pidie.html#ixzz1rE2mwLfo
Aceh, "Patahnya Setangkai Payung"
![]() |
| Hotel Atjeh. |
LAPANGAN Terbang Lhok
Nga, Aceh Besar, 15 Juni 1948. Ribuan rakyat berkumpul mengelu-elukan
pendaratan satu pesawat Dakota sewaan. Dari lambung burung besi itu
muncullah Presiden Sukarno, sejenak menebar pandang ke seputar massa,
lalu setapak demi setapak menuruni tangga pesawat. Hari itu sejarah
mencatat: ini kunjungan pertama Bung Karno ke Tanah Rencong.
Republik, ketika itu, sedang
didera urusan gawat. Setahun sebelumnya Indonesia digoyang agresi
kolonial Belanda. Sebagian besar wilayah telah diduduki, kecuali Aceh
dan Yogyakarta. "Perjuangan di Medan Area dan Aceh telah memperkuat posisi Indonesia di tingkat internasional,"
tutur Amran Zamzami, 74 tahun. Bekas tentara pelajar dan tokoh Aceh
yang kini bermukim di Jakarta ini menjadi saksi hidup kunjungan
bersejarah itu.
Di bandar udara itu pula rakyat
Aceh menyambut Bung Karno dengan gemuruh pekik, "Merdeka!" Para petinggi
Aceh pun menyapanya dengan senyum terkembang. Di ujung tangga pesawat,
ada Residen Aceh, Teuku Muhammad Daudsyah. Dia ditemani "orang kuat"
Serambi Mekah: Daud Beureueh, Gubernur Militer Aceh, Langkat, dan Tanah
Karo. Daud, yang berpakaian lengkap layaknya opsir militer, menyalami
Sukarno dengan akrab. Mereka saling membungkuk hormat.
Saat itu, Amran bercerita,
Indonesia belum lepas dari ancaman Belanda. Pertempuran besar bisa
meledak kapan saja. Tapi di Aceh keadaannya berbeda. Sebagai gubernur
militer, Daud Beureueh ternyata mampu mengatasi situasi. Aceh relatif
aman dan tertib. Pemerintah lokal di sana bahkan mampu membuka kontak
dagang dengan luar negeri. Tak salah jika Bung Karno menabalkan Aceh
sebagai "modal Republik".
Esoknya, di Kutaradja-kini Banda
Aceh-satu defile bersenjata digelar oleh Divisi X TNI, kesatuan yang
terkenal garang menyerang Belanda dan Jepang di Aceh. Puluhan ribu
rakyat merayakan pawai militer itu. Dan pidato Sukarno pun dengan cepat
menyihir mereka. "Tidak salah sangka aku. Semangat Aceh memang bergelora, menjadi modal bagi perjuangan bangsa," ujar Bung Karno. Selain Kutaradja, Bung Karno juga singgah ke Sigli dan Bireuen.
Di Kuta Asan, Sigli, dia menghimpun rakyat di lapangan. Di Bireuen, Aceh Utara, Bung Karno membakar lagi: "Sengaja
aku datang ke Aceh untuk menjemput semangat juang rakyat Aceh, untuk
kita jadikan modal merebut kembali wilayah RI yang diduduki Belanda."
Pujian, atau lebih tepat agitasi, itu kelihatannya menjadi misi Sukarno
ke Aceh. Wilayah ini bagai seteguk tonik bagi Republik. Dan, tentu
saja, dalam pusaran revolusi kemerdekaan di Aceh, peranan Daud-kerap
disapa Abu Beureueh-sangatlah kuat.
Peneliti sejarah asal Selandia
Baru, Anthony Reid, mengatakan, sejak uleebalang tersingkir akibat
revolusi sosial di Aceh, posisi ulama kian kuat di bawah Beureueh. Aceh,
tulis Reid, menjadi daerah Islam yang unik, sekaligus "salah satu
contoh revolusi sosial yang berhasil".
Cerita sukses itu membuat
pemerintah pusat, selama aksi militer Belanda pertama pada 1947,
mengangkat Beureueh sebagai gubernur militer. "Ia satu-satunya orang tanpa pendidikan Belanda atau Jepang yang menerima pengangkatan begitu tinggi selama revolusi,"
tutur Reid dalam bukunya, Revolusi Nasional Indonesia. Sukarno
tampaknya sangat bergairah saat berkunjung ke Aceh itu. Dia bertemu
pemuda dan pelajar Aceh di Gedung Bioskop Garuda, Kutaraja.
Di sana, ia berseru: "Insya
Allah, sekalipun Republik kita tinggal setangkai payung, tangkainya di
Aceh, payungnya di Yogyakarta, Aceh dapat dijadikan daerah modal untuk
merebut kembali wilayah Republik yang kini diduduki Belanda!"
Puncak lawatan politik itu tentu saja pertemuan antara Bung Karno dan
Beureueh. Arkian, sehari sebelum bertolak kembali ke Yogyakarta, Bung
Karno menerima para ulama di pendopo keresidenan.
Beureueh didampingi dua tokoh
penting Aceh lainnya: Teungku Ahmad Hasballah Indrapuri dan Teungku
Hasan Krueng Kalee. Pada 15 Oktober 1945, hanya dua bulan setelah
proklamasi kemerdekaan Indonesia, tiga ulama itu turut menandatangani "Makloemat Oelama Seluruh Atjeh".
Isinya, mengajak seluruh rakyat Aceh berdiri di belakang "mahapemimpin
Sukarno, untuk menunggu perintah dan kewajiban yang akan dijalankan".
Pernyataan itu disebar ke seluruh Aceh dengan menegaskannya sebagai
perjuangan suci: "perang sabil".
Sekarang, sang proklamator cuma
pemimpin Republik itu ada di depan mata. Di pendopo itu kembali Sukarno
minta kepada Beureueh agar Aceh mempertahankan Republik Indonesia sampai
tetes darah terakhir. Mungkin inilah "perintah dari mahapemimpin" itu.
Beureueh menjawabnya mantap: "Saudara Presiden, kami rakyat Aceh dengan segala senang hati memenuhi permintaan itu."
Tapi, seperti dikutip oleh M.
Nur El Ibrahimy, menantu Beureueh yang kini telah sepuh itu, Beureueh
memberi syarat: perang itu untuk menegakkan agama Allah.
"Kalau ada di antara kami mati terbunuh dalam perang itu, maka berarti mati syahid," ujar Beureueh seperti ditirukan Ibrahimy.
Bung Karno menjawab: "Memang
yang saya maksudkan adalah perang yang seperti dikobarkan oleh pahlawan
Aceh seperti Teungku Cik di Tiro, perang yang tak kenal mundur, perang
yang bersemboyan merdeka atau syahid."
"Kalau begitu, kedua pendapat kita sudah bertemu, Saudara Presiden," kata Beureueh.
Lalu, dia segera memohon agar Sukarno kelak memberi kebebasan kepada Aceh untuk menjalankan syariat Islam.
"Kakak (panggilan Bung Karno kepada Beureueh-Red.) tak usah khawatir. Sebab, 90 persen rakyat Indonesia beragama Islam."
Tapi Beureueh mendesak agar ada semacam ketentuan tertulis yang bisa menjadi jaminan. "Maafkan saya, Saudara Presiden. Kami menginginkan suatu kata ketentuan dari Anda."
Sukarno setuju. Tapi dia
terkejut ketika Beureueh menyodorinya secarik kertas. Rupanya, dia
meminta Sukarno menuliskan sesuatu. Mendengar permintaan itu, Bung Karno
menangis terisak-isak.
"Air mata sampai membasahi pakaiannya," tutur Ibrahimy.
Sukarno juga mutung. Dia merasa tak berguna sebagai presiden, karena Beureueh tak percaya kepadanya.
Beureueh menjawab: "Bukan kami tak percaya. Sekadar tanda untuk diperlihatkan kepada rakyat Aceh yang kami ajak berperang."
Bung Karno lalu mengucapkan satu kalimat, yang di belakang hari menjadi duri dalam hubungannya dengan Beureueh.
"Wallah, Billah, kepada daerah Aceh nanti akan diberikan hak menyusun rumah tangganya sendiri sesuai dengan syariat Islam," begitu ujar Sukarno. Menurut Ibrahimy, Abu tak lagi minta jaminan karena "iba melihat Presiden menangis terisak-isak".
Setahun kemudian, Beureueh
membuktikan kesetiaannya kepada Republik. Ketika Wali Negara Sumatera
Timur, dr. Teungku Mansyur, menawarkan kepada Aceh menjadi bagian dari
Negara Sumatera, dia tegas menolak. Sikapnya termuat dalam surat kabar
Semangat Merdeka yang terbit di Kutaradja, 23 Maret 1949.
"Perasaan
kedaerahan di Aceh tak ada. Sebab itu kita tak bermaksud membentuk
suatu Aceh Raya dan lain-lain. Kita di sini adalah bersemangat
republiken," ujar Beureueh. Tapi, dua tahun setelah kunjungan
Sukarno itu, kegelisahan mulai bertiup. Status provinsi bagi Aceh, yang
telah dikukuhkan oleh Pemerintah Darurat Republik Indonesia pada
Desember 1949, mulai digugat.
Soalnya, ada penataan baru
status provinsi. Pemerintah memutuskan meleburkan Aceh ke dalam Provinsi
Sumatera Utara. Untuk mempertahankan provinsi otonomi, Beureueh sempat
melobi Sukarno-walaupun sia-sia. Mohammad Hatta juga berkunjung ke Aceh
menjelaskan pentingnya penggabungan itu. Akhirnya, Provinsi Aceh
dibubarkan pada Januari 1951.
Kegelisahan kian tajam ketika
Sukarno berpidato di Amuntai, Kalimantan Selatan, pada 27 Januari 1953.
Di sana ia menolak Islam sebagai dasar negara. "Yang kita inginkan adalah negara nasional yang meliputi seluruh Indonesia," ujarnya.
Saat itu memang ada program
politik nasional merebut Irian Barat. Negara Islam, menurut Sukarno,
akan membuat Irian Barat tak mau jadi bagian dari Republik. Beureueh
menilai Sukarno ingkar janji. Sementara itu, di pusat, perdebatan soal
Islam sebagai dasar negara kembali marak. Ucapan Presiden itu juga
menyinggung sejumlah partai politik Islam, seperti Masyumi dan Nahdlatul
Ulama.
Sukarno mulai menuai hujan
kritik. Tapi Beureueh tampaknya tak bernafsu lagi dengan hiruk-pikuk
politik di pusat itu. Dia mungkin sedang mempertimbangkan kembali "Makloemat Oelama" dulu, dan janji si Bung bahwa Aceh adalah daerah modal, walau Indonesia tinggal "setangkai payung". Pada 21 September 1953, payung itu pun menutup. Beureueh memilih jalan lain: pemberontakan Darul Islam.
***
Read more: http://www.atjehcyber.net/2011/08/aceh-patahnya-setangkai-payung.html#ixzz1rCj65ZYf
Asal Usul Ampon Chiek Samalanga
Posted by : Azzan Djuli El-Asyi
» On 15 -
Jan -
2012

Oleh Faurizal Moechtar (*
Pada zaman Pemerintahan Sultan
Iskandar Muda, hiduplah seorang musafir yang tiba dari Bugis di
Samalanga. Orang-orang memanggilnya dengan sebutan Tok Banda. Beliau
adalah seorang yang baik hati, pemurah, dan dermawan. Hari-hari Tok
Banda bekerja sebagai petani di kawasan Kuta Blang Samalanga.
Tok Banda menanam sayur-sayuran
dan juga semangka. Jika ada orang yang meminta, Tok Banda akan
memberikannya dengan satu syarat: Setiap peminta wajib mendoakan dengan
bacaan, “Tok Banda beumeubahgia sampoe aneuk cuco (Tok Banda (semoga)
berbahagia hingga anak cucu) .”
Bertahun-tahun beliau di Samalanga, sampai benar-benar diterima oleh masyarakat setempat.
Pada suatu ketika, disaat
Samalanga kekosongan pemerintahan, para pemuka adat dari Samalanga yang
dikenal dengan Hakim Peut Misee berkeinginan bertemu dengan Raja Aceh
(Sultan Iskandar Muda red). Perjalanan dari Samalanga ke Aceh tersebut
direncanakan menggunakan perahu, namun karena para Hakim Peut Misee
tidak ada yang mengerti ilmu navigasi, dengan terpaksa mereka mencari
orang yang lain sebagai navigator. Pada saat itu Tok Banda lah yang
dianggap mengerti ilmu tersebut, karena beliau adalah seorang perantau
yang datang dari Bugis dengan perahu.
Setelah berhari-hari perjalanan
dari Samalanga ke Aceh, tibalah mereka di Bandar Aceh. Tok Banda
ditinggalkan di pelabuhan sebagai penjaga perahu, sementara para Hakim
Peut Misee pergi menuju Meuligoe Raja Aceh. Menurut sebuah versi, Raja
Aceh yang ‘Troeh Mata’ sudah menyiapkan 12 buah kursi untuk para
tamunya dari Samalanga. Sultan mempersilakan duduk tamu-tamunya,
kemudian Sultan bertanya, “Padum droe tajak?”
“Na siblah droe, yang Mulia,”
jawab juru bicara Hakim Peut Misee.” Sultan menimpali, “Yang betoi ta
peugah.” Lalu dijawab lagi oleh juru bicara Hakim Peut Misee, “Eu na
sidroe teuk, si Tok Banda tukang seut jalo, yang Mulia.” “Meunyoe menan
ka get lah.” Raja meng-iya-kan.
Kemudian Sultan memerintahkan
punggawa kerajaan untuk menjemput Tok Banda di Ulee Lheu. Sesampai di
istana, Sultan mempersilakan Tok Banda duduk di kursi yang kosong.
Ternyata kursi yang tersisa tersebut adalah kursi paling indah dan besar
di antara 12 kursi yang disiapkan oleh sultan. Para Hakim Peut Misee
tidak berani mendudukinya, meskipun mereka telah tiba dari awal.
Setelah makan malam, Sultan
bertanya, “”Peu na hajat, jioh-jioh troeh dari nanggroe Samalanga?”
Juru bicara Hakim Peut Misee menjelaskan, “Meunoe yang meulia, kamoe
troeh teuka jioh dari Samalanga menghadap baginda yang mulia untuk
meubie thee bahwa di Samalanga hana Ulee Balang. Oleh sawueb nyan kamo
meulakee bak Baginda yang mulia untuk neuteunyok salah sidroe di antara
kamo untuk neu-angkee sebago Ulee balang di Samalanga”. “Get, .get,”
sultan mengangguk-angguk. “Tapi, nyoe na saboh hiem, soe nyang jeut
peuglah hiem nyoe nyan keuh yang ta angkee sebagoe ampon syik di
Samalanga, “ pinta sultan.
Kemudian sultan mengajukan dua
pertanyaan sekaligus. “Meuseu bak saboh saat nanggroe haroe-hara,
nanggroe Khueng (paceklik) dan rakyat deuk, pue nyang jeut keu tumpang
kroeng dan pue nyang jeut keu ikat kroeng?” Berbagai macam jawaban yang
dijawab oleh Hakim Peut Misee. Ada yang menjawab, “Keutumpang kroeng
bak bangka, keu ikat kroeng taloe jok.” Ada juga yang menjawab, “Bak
pineung ngon taloe iboeh”. Sementara itu Tok Banda duduk, diam, dan
berpikir.
Melihat Tok Banda tak berani
menjawab dan berbicara, sultan bertanya kepada Tok Banda, “Pakoen gata
ta iem? Pakiban jeunaweub jih meunurot gata?”. Dengan sigap Tok Banda
menjawab, “Nyang jeut keu tumpang kroeng na keuh boh bie, keu ikat
kroeng na keuh boh keupila, yang Mulia.” Ternyata jawaban Tok Banda
benar, kemudian Raja mengatakan, “Nyoe keuh pemimpin ureung droeneuh di
nanggroe Samalanga. Neupuwoe keudeh dan neu angkee sebago Ampon Chiek”.
Dalam perjalan dari Aceh ke
Samalanga, sampai ke Pante Raja Hakim Peut Sagoe sepakat untuk membunuh
dan menjatuhkan Tok Banda ke laut, kaena mereka tidak puas dengan
keputusan sultan. Berbulan-bulan Tok Banda terapung di lautan sampai
bersisik ‘timoh teuritep’. Akhirnya, Tok Banda ditemukan oleh nelayan,
kemudian diantar kembai ke istana raja. Tok Banda pun tinggal di sana.
Empat tahun kemudian para Hakim
Peut Misee kembali datang bertemu Raja Aceh Sultan Iskandar Muda.
Seperti pertemuan empat tahun lalu, para Hakim Peut Misee menyampaikan
perihal kedatangannya. “Yang Mulia, Tok Banda kageutinggai kamo, gobnyan
kageuwoe bak Allah ,dan gobnyan hana keturunan. Oleh karena nyan, kamoe
muelakee bak baginda yang Mulia untuk neutunyoek laen genantoe Tok
Banda, seubago ulee Balang di Samalanga.”
Tiba-tiba, Tok Banda keluar dari
biliknya di istana dengan pakaian kebesaran Ulee Balang lengkap dengan
mahkota. Secara bersamaan Sultan mengatakan, “Ampon Chiek Samalanga na
sajan kamoe, neutuloeng puwoe seureta neu umumkan nibak rakyat bahwa
nyoekeuh Ampon Chiek nanggroe Samalanga.” Dengan rasa malu yang sangat
dalam para Hakim Peut Sagoe memita maaf dan mengangguk-angguk. Menurut
versi lainnya, Hakim Peut Misee dihukum Pancung oleh Sultan Iskandar
Muda. Inilah asal-usul Ampon Chiek Samalanga versi masyarakat yang
diturunkan secara turun temurun.
***
* Penulis adalah pemerhati budaya,
Rubrik Opini Serambi Indonesia Daily
Read more: http://www.atjehcyber.net/2012/01/asal-usul-ampon-chiek-samalanga.html#ixzz1rCdxSBA1
Langganan:
Komentar (Atom)


