Negara Republik Indonesia
merupakan salah satu Negara besar yang berpenduduk muslim terbesar di
dunia. Ia wujud lewat perlawanan jangka panjang para pejuang muslim
melawan penjajah Portugis, Inggris, Belanda dan Jepang.
Pada
dasarnya tidak ada yang mengenal apa itu Indonesia, atau Republik
Indonesia (RI), lebih-lebih lagi Negara Kesatuan Republik Indonesia
(NKRI). Namun selepas keberangkatan para penjajah dari wilayah yang hari
ini bernama Indonesia terutama sekali pasca penjajahan Belanda,
Soekarno dan Muhammad Hatta sebagai Presiden dan Wakil Presiden
Indonesia yang pertama mengklaim semua bekas jajahan Belanda adalah
Republik Indonesia.
Karena penghuni wilayah tersebut
masih sangat lelah akibat perang yang berkepanjangan, maka hampir semua
mereka menerimanya dan tidak ada yang menolak atau mandirikan negara
selain Indonesia.
Khusus untuk para
pejuang-pejuang Aceh, waktu itu tidak terpikirkan kalau Indonesia dahulu
menjadi Indonesai hari ini yang bringas terhadap Aceh. Karenanya
bergabung dengan Indonesia dengan target memperluas wilayah Islam dan
menjadikan Indonesia yang Islami menjadi impian mereka tatkala itu.
Namun apa hendak dikata, dunia semakin majemuk, pengaruh globalisasi
merambas kemana-mana, termasuklah ke Indonesia. Maka Indonesia yang
diimpikan dahulu menjadi jauh panggang dari api dan jauh dari kenyataan
yang diidamkan. Akibatnya, Indonesia yang tidak berdasar seperti Aceh
kini eksis sebagai salah satu negara di permukaan bumi.
Sementara para mujahidin Aceh
yang membebaskan Indonesia dari penjajah Belanda tertelan masa dan
nama-nama mereka hilang dalam peredaran sejarah Indonesia. Malah
orisinal sejarah disembunyikan penguasa Indonesia dari masa ke masa
sehingga anak-anak sekolah tidak mengenal sejarah Aceh, negeri Aceh dan
pejuang Aceh yang sebenarnya.
NKRI yang diagung-agungkan
selama ini sama sekali tidak berakar seperti Kerajaan Aceh Darussalam,
Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Majapahit, Kerajaan Ngurah Rai, Kerajaan
Kutai dan sebagainya. Baik secara resmi atau tidak ia merupakan kumpulan
wilayah-wilayah kerajaan tersebut kemudian diberi nama Indonesia oleh
penguasa di awal kemerdekaannya. Karena sifatnya tidak berakar maka ia
akan mudah tumbang, cuma masanya saja yang sulit diprediksikan. Tambah
lagi dengan operasional dan servis penguasa Indonesia terhadap rakyatnya
tercatat sangat amat buruk dan jelek dari masa ke masa sehingga hari
ini.
Para pejuang muslim Aceh
berperang melawan penjajah dari zaman kezaman lebih disebabkan oleh
faktor aqidah dan ideologi Islam. Jadi bukan semata mata hendak
mewujudkan Republik Indonesia. Buktinya, ketika para pemimpin Indonesia
berbuat dhalim terhadap muslim dan Islam, bangsa Aceh tidak segan-segan
melawannya seperti dalam kasus DI/TII, kasus GAM dan sebagainya. Jadi
perjuangan kaum mujahidin Aceh dahulu sama sekali tidak terpengaruh
dengan sistem hidup nasionalisme, sekularisme dan liberalisme
sebagaimana yang menimpa kebanyakan muslim Indonesia hari ini.
Karenanya, wujud NKRI sulit
dipisahkan dengan perjuangan mujahidin Aceh, ia tidak bakal ada sama
sekali kalau Aceh dan bangsanya tidak mempertahankan perang Medan Area,
membeli pesawat terbang pertama untuk Indonesia, menyiarkan
berita-berita akurat melalui Radio Rimba Raya di Kabupaten Bener Meriah
sehingga penjajah Belanda gagal menguasai Aceh dan sekaligus eksistensi
NKRI wujud serta diakui oleh dunia luar.
Peran Mujahidin Aceh sebagai Penegak NKRI
Tidak dapat disangkal lagi bahwa
wujudnya NKRI lebih didominasi oleh perjuangan dan perlawanan para
mujahidin Aceh yang mempertahankan invasi Belanda kedua tahun 1948. Pada
masa tersebut seluruh wilayah RI sudah dikuasai kembali oleh penjajah
Belanda kecuali Aceh. Ketika itu Soekarno dan Muhammad Hatta selaku
Presiden dan Wakil Presiden sudah ditangkap penjajah, Syafruddin
Prawiranegara selaku Presiden Darurat Republik Indoonesia (PDRI) sudah
hijrah ke Kutaraja (Banda Aceh) dan dibiayai oleh masyarakat Aceh
sepenuhnya.
Dalam
suasana seumpama itu Aceh juga membiayai para pejuang di kawasan
Sumatera Barat dan Sumatera Timur dengan mengirim ber ton-ton beras,
kerupuk mulieng, lembu kerbau dan sebagainya sebagai bekal
mempertahankan wilayah RI sehingga ia wujud seperti hari ini.
Di luar negeri, biaya duta keliling Haji Agussalim, Dr. Sudarsono di India, biaya Konferensi Asia di New Delhi dan biaya hidup L.N.Palar selaku duta Indonesia di PBB New York juga ditanggung oleh masyarakat Aceh sehinga NKRI wujud di permukaan bumi ini. bahkan biaya untuk perwakilan R.I. di Pulau Pinang dan Singapura juga ditanggung oleh orang Aceh.[1] Dengan demikian tidak salah kalau kesimpulan sedikit kental diambil bahwa NKRI sebetulnya ditegakkan dan diwujudkan oleh para mujahidin Aceh yang menginginkan Islam dan hukumnya berlaku penuh di dalamnya.
Di luar negeri, biaya duta keliling Haji Agussalim, Dr. Sudarsono di India, biaya Konferensi Asia di New Delhi dan biaya hidup L.N.Palar selaku duta Indonesia di PBB New York juga ditanggung oleh masyarakat Aceh sehinga NKRI wujud di permukaan bumi ini. bahkan biaya untuk perwakilan R.I. di Pulau Pinang dan Singapura juga ditanggung oleh orang Aceh.[1] Dengan demikian tidak salah kalau kesimpulan sedikit kental diambil bahwa NKRI sebetulnya ditegakkan dan diwujudkan oleh para mujahidin Aceh yang menginginkan Islam dan hukumnya berlaku penuh di dalamnya.
Ketika wilayah RI dahulu dijajah
Belanda, pejuang-pejuang Aceh dengan gigih dan giat berupaya
membebaskannya dengan berbagai cara. Salah satu cara yang cukup
signifikan adalah membeli pesawat terbang yang menjadi pesawat terbang
pertama buat Indonesia. Bangsa Aceh mengumpulkan dana, emas dan
benda-benda lain untuk keperluan tersebut yang berjumlah banyak.
20 kilogram emas murni beserta sejumlah dana yang berkumpul di tangan Ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) Muhammad Joened Joesoef pada tanggal 1 bulan Agustus 1948 segera diberangkatkan ke Singapura untuk diserahkan kepada ketua komisi pembelian pesawat terbang opsir udara II Wiweko, menjelang tiga bulan kemudian sebuah pesawat Dakota berjaya diterbangkan ke Indonesia akhir bulan Oktober 1948.[2]
20 kilogram emas murni beserta sejumlah dana yang berkumpul di tangan Ketua Gabungan Saudagar Indonesia Daerah Aceh (GASIDA) Muhammad Joened Joesoef pada tanggal 1 bulan Agustus 1948 segera diberangkatkan ke Singapura untuk diserahkan kepada ketua komisi pembelian pesawat terbang opsir udara II Wiweko, menjelang tiga bulan kemudian sebuah pesawat Dakota berjaya diterbangkan ke Indonesia akhir bulan Oktober 1948.[2]
Yang tidak kalah penting dan
lebih signifikan lagi adalah peran Radio Rimba Raya yang bermarkas di
Krueng Simpo Kabupaten Bener Meriah. Radio ini telah berhasil menyiarkan
berita keluar negeri bahwa Aceh masih tetap eksis dan para pejuang
tetap melakukan perlawanan terhadap penjajah Belanda. Dengan demikian
dunia luar tidak mengakui klaim Belanda bahwa Indonesia telah dikuasai
mereka. Karena Aceh masih eksis dan berjuang untuk kemerdekaan RI maka
RI wujud atas perjuangan para mujahidin Aceh, dan penjajah Belanda
kemudian kewalahan dan gagal menaklukkan Aceh yang sekaligus gagal
menaklukkan RI.
Satu hal yang harus diingat
dalam masa perlawanan tersebut adalah; perlawanan dan perjuangan bangsa
Aceh terhadap penjajah Belanda dilatarbelakangi oleh faktor keimanan,
ketauhidan dan aqidah yang kuat. Muslim Aceh menginginkan apabila
penjajah kalah dan negara wujud maka mereka ingin hidup dalam nuansa
aqidah Islamiyah, Syariah Allah dan Akhlak mulya dalam negara yang sudah
sangat lelah diperjuangkan tersebut.
Perang yang mereka lakukan adalah perang suci di jalan Allah (Jihad fi sabilillah). Mereka mau berperang karena ingin menegakkan agama Allah bukan ingin menjadi presiden, menteri, gubernur, bupati dan sebagainya. Target utama yang ingin mereka capai adalah menang dengan dapat menegakkan Hukum Allah (Syariïah) atau meninggal dengan memperoleh gelar Syuhada (mati syahid).
Perang yang mereka lakukan adalah perang suci di jalan Allah (Jihad fi sabilillah). Mereka mau berperang karena ingin menegakkan agama Allah bukan ingin menjadi presiden, menteri, gubernur, bupati dan sebagainya. Target utama yang ingin mereka capai adalah menang dengan dapat menegakkan Hukum Allah (Syariïah) atau meninggal dengan memperoleh gelar Syuhada (mati syahid).
Asal muasal NKRI
Negara Kesatuan Republik
Indonesia (NKRI) yang berbatas dari Sabang sampai Marauke secara
historis memang sama sekali tidak berakar dan tidak berazas. Dalam
wilayah NKRI hari ini yang pernah berakar dan berazas adalah Kerajaan
Aceh Darussalam, Kerajaan Samudera Pase di Aceh, Kerajaan Siak di
Sumatera Utara, Kerajaan Sriwijaya di Palembang, Kerajaan Majapahit di
Jawa, Kerajaan Ngurah Rai di Bali, Kerajaan Kutai di Kalimantan, dan
sejumlah kerajaan lain di kawasan timur dan barat Indonesia.
Karena ia sudah tercatat dalam
peta dunia dan tercantum dalam buku besar Perserikatan Bagsa-bangsa
(PBB) sebagai organisasi dunia, maka resmi dan sahlah Republik Indonesia
sebagai sebuah negara dalam pandangan dunia internasional. Walaupun
tidak berakar dan tidak berazas tetapi dunia sudah mengakui bahwa
Republik Indonesia merupakan sebuah negara sah di permukaan bumi ini.
Kalau ada pihak-pihak yang mau membatalkan pengakuan tersebut maka ia
harus menghancurkan RI di permukaan bumi atau menggantikannya dengan
nama lain beserta dengan format yang lain pula. Dan ini merupakan tugas
berat bagi siapa saja yang menginginkannya.
Dari sudut pandang historis,
NKRI sama sekali tidak punya dasar sejarah sebagaimana dasar sejarah
bagi Keraaan-kerajaan lain di kepulauan Melayu. Dari segi sosiologis, ia
sama sekali tidak mampu mengelola dan menyejahterakan rakyatnya yang
berjumlah sangat banyak. Dari segi politis, NKRI selalu goyah, pecah
dalam komunitas, terancam ambruk, diobok-obok pihak luar dan kacau balau
dalam lembaga legislatif, eksekutif dan yudikatif.
Dalam usia yang sudah melebihi setengah abad hari ini, NKRI sama sekali tidak bermarwah di luar negeri, warga negara RI yang bekerja di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Australia dan di negara-negara Arab dipandang sebelah mata oleh mereka. Hal ini terjadi belum tentu karena mereka sombong dan arogan, tetapi lebih disebabkan oleh kebodohan dan kedunguan serta kejahatan yang dilakukan warga negara RI sendiri sehingga dipandang hina.
Dalam usia yang sudah melebihi setengah abad hari ini, NKRI sama sekali tidak bermarwah di luar negeri, warga negara RI yang bekerja di Malaysia, Singapura, Brunei Darussalam, Australia dan di negara-negara Arab dipandang sebelah mata oleh mereka. Hal ini terjadi belum tentu karena mereka sombong dan arogan, tetapi lebih disebabkan oleh kebodohan dan kedunguan serta kejahatan yang dilakukan warga negara RI sendiri sehingga dipandang hina.
Untuk melambangkan kehinaan warga negara RI yang bekerja di luar negeri, di Malaysia dan Singapura mereka dipanggil Indon , di Arab Saudi disebut Siti Rahmah ,
dan sudah barang tentu di tempat-tempat lain tentu ada nama lain pula
sebagai ciri khas buat bangsa Indonesia yang tidak punya azas utama buat
negara mereka. Mata uang rupiah sebagai mata uang resmi RI teramat
sangat sulit digunakan di luar negeri. Untuk menukarkan rupiah dengan
mata uang asing di Singapura dan Australia, tidak semua authorised money
changers mau menerimanya. Jadi warga negara RI yang berkunjung ke sana
harus siap-siap dengan mata uang asing sebelum berangkat kesana.
Begitulah sekilas potret NKRI
yang hari ini sudah berusia lebih setengah abad namun kemampuan untuk
menjalankan tugas wajibnya sama sekali belum terpatri. Diramalkan sampai
kapanpun NKRI tidak mampu menyejahterakan kehidupan rakyat,
menstabilkan kehidupan politik, memajukan kehidupan teknologi dan
mengamankan kehidupan beragama sebelum ia lepas dari kungkungan luar
yang mendektekan eksistensi NKRI dalam berbagai dimensi kehidupan. Atau
ia baru lurus berjalan mulus apabila NKRI yang berazaskan Pancasila
berganti dengan nama lain yang wujud berlainan dengan pentadbiran yang
lain pula.
***
Oleh Hasanuddin Yusuf Adan
Catatan Kaki :
[1] M. Nur El Ibrahimy, Teungku Muhammad Dawud Beureu-�h, Jakarta: Gunung Agung, 1986, hal., 44. Lihat juga A.K. Jakobi, Aceh Dalam Perang Mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan 1945-1949 dan Peran Teuku Hamid Azwar sebagai Pejuang, Jakarta: Gramedia & Seulawah RI 001 1998, hal., 276-278.
[2] Ibid.
[3] S.S. Djuangga Batubara, Teungku Tjhik Muhammad Dawud di Beureu-�h Mujahid Teragung di Nusantara, Medan: Gerakan Perjuangan dan Pembebasan Republik Islam Federasi Sumatera Medan, 1987, hal., 128.
Read more: http://www.atjehcyber.net/2011/08/eksistensi-nkri-dan-perjuangan.html#ixzz1rFJ7Pv6K
