Selasa, 07 Mei 2013
Sharing of Information: LAPORAN KEGIATAN KKN FISIP UNSYIAH 07
Sharing of Information: LAPORAN KEGIATAN KKN FISIP UNSYIAH 07: BAB III REALISASI KEGIATAN MAHASISWA KKN 3.1 Kegiatan Mandiri 3.1.1 Bidang Administrasi Gampong a. Pembuatan ...
Penerbit Insan Cita - Artikel: Membuat Penerbitan Buku Indie
Penerbit Insan Cita - Artikel: Membuat Penerbitan Buku Indie: Penerbitan indie atau penerbitan mandiri kini mulai menjamur di mana-mana. Ya, mendirikan penerbitan mandiri adalah salah satu tren dunia...
Selasa, 16 April 2013
SERUNEE KALEE, ALAT MUSIK TIUP KHAS TRADISIONAL ACEH
Oleh : Indra Maulana
A. PENDAHULUAN
Kesenian merupakan salah satu dari tujuh
unsur kebudayaan universal. Kebudayaan merupakan “Keseluruhan gagasan dan karya
manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhan dari
hasil budi dan karyanya itu”. Itu berarti bahwa kesenian juga merupakan hasil
budi dan karya manusia. Seni adalah sesuatu yang indah yang dihasilkan manusia,
penghayatan manusia melalui penglihatan, pendengaran dan perasaan. Seni
merupakan penjelmaan rasa indah yang terkandung jiwa seseorang, dilahirkan
dengan perantaraan alat-alat komunikasi ke dalam bentuk yang dapat ditangkap oleh
indera pendengar (seni suara), penglihat (seni lukis/kriya) atau dilahirkan
dengan perantaraan gerak (seni tari, drama). Namun yang akan dibahas lebih
lanjut yaitu berhubungan dengan sebuah alat musik tradsional Aceh yaitu alat
musik tiup yang dinamakan dengan Serune Kalee.
Lahirnya alat musik tradisional aceh
tidak secara spontan. Pada dasarnya bunyi-bunyian
tercipta dari upaya manusia dalam meniru suara alam, suara binatang, kicauan
burung, desau angin dari gesekan yang terjadi dari dalam pohon dan sebagainya.
Dengan latar belakang penciptaan yang sama, beberapa alat musik yang tercipta
memiliki banyak kesamaan, baik dari bahan, cara pembuatan, bentuk dan cara
memainkannya. Kesamaan instrumen yang dihasilkan menunjukkan adanya kontak
antar kelompok masyarakat.
Musik atau alat musik terdapat dalam
setiap kebudayaan. Musik pada awalnya juga dipergunakan untuk menyebarkan
agama, kegiatan-kegiatan sakral dan upacara-upacara yang berhubungan dengan
kepercayaan dan adat. Musik dipergunakan sebagai sarana untuk membangkitkan
semangat, menyemarakkan suasana, mengiringi gerak tari.
Di daerah-daerah seperti Sumatera, Jawa,
Bali serta beberapa daerah lainnya musik dipergunakan untuk penobatan raja,
menyambut tamu kehormatan, pemberangkatan perang, perayaan kemenangan dan
lain-lain. Pada perkembangan selanjutnya, seni musik juga berkembang sebagai
bentuk seni pertunjukan dengan sasaran hiburan semata-mata. Sedangkan
pemanfaatnya ada yang semata-mata untuk tujuan menghasilkan bunyi-bunyian,
sebagai tanda tertentu ataupun sebagai pengiring lagu, syair dan tari. Alat
musik biasanya dalam menghasilkan bunyi dipraktekkan dengan ditiup, dipukul,
digesek dan dipetik.
Di sumatera, musik tradisional juga
dipengaruhi oleh unsur-unsur kebudayaan Arab dan Barat. Sebagai contoh, setelah
datangnya pengaruh Arab muncul kesenian yang menggunakan rebana dengan
menyenandungkan syair-syair keagamaan. Kemudian berkembang musik gambus untuk
mengeringi lagu-lagu, tari maupun instrumental. Musik gambus ini selain
menggunakan alat musik petik, juga dimainkan alat-alat musik lain seperti
gendang, seruling, juga menggunakan biola, terompet dan accordion yang
merupakan pengaruh barat.
Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam
sebagaimana provinsi lainnya di Indonesia merupakan salah satu daerah yang kaya
akan kebudayaan. Sejarah telah membuktikan semenjak adanya kerajaan-kerajaan di
masa silam sampai Indonesia memproklamirkan kemerdekaanya hingga dewasa ini
Aceh tetap menjunjung tinggi nilai-nilai kebudayaannya bahkan nilai-nilai
budaya ini menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Aceh.
Salah satunya adalah alat musik
tradisional Aceh yaitu Serune Kalee
masih tetap dipelihara, dikembangkan dan dipegelarkan oleh pencinta dan
pendukung-pendukungnya sampai dewasa ini namun tidak mungkin akibat penetrasi
unsur-unsur luar/kebudayaan luar, nilai-nilai budaya Aceh akan menjadi suram
ataupun mungkin menjauh/menghilang dalam masyarakat.
Oleh karena itu dalam tulisan ini mencoba
membahas serta memperkenalkan kembali
salah satu alat musik tradisional Aceh yang masih eksis sampai saat
sekarang ini di masyarakat aceh yang sering digunakan dalam acara-acara hiburan
dan penyambutan tamu, dan semoga tulisan ini bisa bermanfaat bagi semua pihak
yang membacanya.
Serune Kalee adalah instrumen tiup tradisional
Aceh merupakan alat musik khas tradisional Aceh yang mampu mengalunkan
instrumen-instrumen luar biasa yang mengiringi lagu-lagu nan syahdu maupun
heroik yang telah lama berkembang dan dihayati oleh masyarakat Aceh sejak zaman
Kerajaan-Kerajaan Aceh sampai sekarang.

Sumber
: (Http://kandalas.blogspot.com)
Serunee Kalee Alat Musik Tradisional Aceh
Alat musik ini populer di daerah
Aceh Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar dan Aceh Barat. Biasanya alat musik ini
dimainkan bersamaan dengan Rapa’i dan
Gendrang pada acara-acara hiburan, tarian, penyambutan tamu kehormatan di masa kerajaan
Aceh Darussalam.
Serune
Kalee
bersama-sama dengan geundrang dan Rapa’i merupakan suatu perangkatan musik
yang sudah ada dari semenjak jayanya kerajaan Aceh Darussalam sampai sekarang
tetap menghiasi dan mewarnai kebudayaan tradisional Aceh disektor musik dan
kriya. Serune Kalee merupakan salah
satu alat musik tiup tradisional Aceh. Alat musik ini merupakan salah satu
jenis serunai yang tersebar dalam masyarakat Melayu.
1.
Lintasan Sejarah Serune Kalee
Abad VII M Islam sudah berkembang di
Aceh, seorang ulama dari Persi, Syech Abdullah membawa alat musik yaitu “Serunee Kalee” untuk mengajak para
masyarakat belajar ilmu agama islam.
Selanjutnya pada abad X seorang
ulama besar : Syech Abdul Khadir Zaelani dari Arab/Iraq ke Aceh untuk mendampingi
“Tuan Di Kandang Syech Bandar Darussalam” yang bernama Mahdum Abi Abdullah
Syech Abdul Rauf Bagdadi untuk memperluas ilmu agama dan ilmu pengetahuan di
Aceh dengan membawa Seni Rapa’I dan Debus asal Persia (C.Snouck Hurgronje, 2002: 29 )
Serunee Kalee berkembang menjadi alat untuk penyambutan dan memuliakan
tamu kenegaraan yang datang ke Kerajaan Bandar Aceh Darussalam. Serunee Kalee masih digunakan dalam
acara adat-adat pernikahan, penyambutan tamu dan berkesenian di tengah
masyarakat Aceh hingga saat ini.
Sumber : http://2.bp.blogspot.com
Maestro Serunee Kalee
yang selamat dari bencana tsunami Desember 2004 adalah : Ismail Sarong,
Pimpinan Sanggar Putroe Ijoe Gampoeng
Pandee Banda Aceh. Beliau seorang putra Aceh yang sudah melanglang buana ke
manca negara untuk memperkenalkan Serunee
Kale dan Seni Budaya Aceh
2. Fungsi Serune Kalee
Serune Kalee sebagai
alat musik primer, berperan membawa lagu yang lebih cenderung instrumentalia. Serune Kalee dimainkan dengan alunan
suara yang terus-menerus dan tidak putus-putus. Suara tersebut dihasilkan dari
teknik meniup dengan mengambil napas dari mulut dan hidung serta leher. Dengan
suara Serune Kalee yang tajam musik
akan terdengar dinamik, terkesan heroik, dan mendatangkan semangat. Gaya
musikal Serune Kalee yang khas tidak
akan terganggu atau mengganggu suara lain pada waktu ikut mengiringi alat tabuh
semisal rapa’i (Z. H. Idris, 1993:
53).
Serune kalee dimainkan dalam berbagai pertunjukan atau
sebagai pelengkap alat musik yang lain, alat musik tradisional ini juga
berperan sebagai penunjang dalam menyebarkan ajaran-ajaran Islam yang
berhubungan antar manusia. Misalnya, upacara perkawinan, melepaskan nazar,
penyambutan tamu, peresmian proyek, dan sebagainya (Z. H. Idris, 1993: 54).
Saat ini peran Serune Kalee bukan hanya berhubungan
dengan dakwah Islam, namun juga dalam berbagai kegiatan yang lain secara umum.
Jenis alat musik serupa Serune Kalee
juga banyak tersebar di berbagai daerah, bahkan hingga ke mancanegara.
3. Bentuk Serune Kalee
Wujud dan bentuk peralatan ini seperti pentungan,
bulat, dan lurus mulai dari batas atas (mondstuk)
hingga ke bagian bawah (bell). Bagian
atas peralatan ini kecil dan membesar di bagian bawahnya. Di bagian badan atau
tubuh terdapat lubang-lubang sebagai tempat memainkan nada yang diinginkan.
Peralatan ini mempunyai warna dasar hitam dan coklat warna dasar kayu yang
dibuat untuk peralatan ini berfungsi sebagai pemanis atau penghias alat musik Serune Kalee.

Sumber : http://2.bp.blogspot.com
Bentuk
dan bagian-bagian Serune Kalee
Sumber:
Z. H. Idris, 1993. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Provinsi Daerah Istimewa Aceh. Jakarta:
Proyek Penelitian, Pengkajian,dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya, hal. 58.
Bahan dasar Serune
Kalee ini berupa kayu, kuningan dan tembaga. Serune kalee yang terbuat dari
kayu, bagian pangkal kecil serta di bagian ujungnya besar menyerupai corong. Di
bagian pangkal terdapat piringan penahan bibir peniup yang terbuat dari
kuningan yang disebut perise. Serune Kalee ini mempunyai 7 buah lobang
pengatur nada. Selain itu terdapat lapis kuningan serta 10 ikatan dari tembaga
yang disebut klah (ring) serta
berfungsi sebagai pengamanan dari kemungkinan retak/pecah badan Serune tersebut. Alat ini biasanya
digunakan bersama genderang Rapa’i
dalam upacara-upacara maupun dalam mengiringi tarian-tarian tradisional (Firdaus
Burhan,1986 : 59).
Corak
suara yang dihasilkan oleh peralatan ini adalah suara yang sengau (bindeng), serak (roco), tajam, dinamis, dan mendatangkan
semangat ketika mendengarnya. Suara alat ini bisa terdengar hingga jauh tanpa
menggunakan pengeras suara. Mungkin kerasnya suara yang dihasilkan oleh
peralatan dikarenakan bahan baku pembuat Serune yang tua, keras, dan ringan (Z.
H. Idris, 1993: 61).
Pada
peralatan ini tidak ada ornamen atau hiasan yang mencolok. Hanya berupa ukiran
pada badan Serune Kalee. Ukiran ini
tergurat dalam bentuk lurus mengelilingi badan Serune Kalee agar Serune
Kalee tampak indah dan terkesan canggih. Pada bagian atas dekat mondstuck terdapat sebuah ring yang berfungsi sebagai pengaman
agar peralatan ini tidak mudah retak. Selain itu, ring juga difungsikan sebagai hiasan. Bagian bell kadang dilapisi dengan plat perak yang diberi sedikit ukiran.
Tidak ada makna secara simbolis untuk ukiran ini (Z. H. Idris, 1993: 62).
5.
Cara Pembuatan
Bahan
utama untuk membuat Serune adalah kayu yang kuat dan keras, namun ringan.
Batang kayu yang akan dibuat Serune
direndam dalam air terlebih dahulu selama tiga bulan. Kemudian ditarah sehingga
yang tersisa adalah hati kayunya saja. Setelah itu kayu dibor dan dibubut mulai
dari atas hingga ke bawah, sehingga membentuk lubang yang panjang lurus dengan
garis tengah 2 cm. Selain membuat lubang pada kayu juga memerlukan bantuan
korekan dengan pisau panjang dan perataan lubang dengan besi panas. Kemudian
membuat lubang sebanyak tujuh buah, enam yang berada di atas atau bagian muka
dan digunakan untuk interval nada, dan satu lagi berada di bawah yang tidak
mempunyai utama. Meski tidak mempunyai fungsi utama ketika alat musik ini
dimainkan, bila lubang bawah ini tidak ada, semua nada akan berubah dan alat
musik ini sulit dibunyikan.
Ratt
dibuat dari daun lontar. Daun lontar untuk membuat bagian ini adalah daun
lontar yang baik dan tidak terlalu tebal. Setiap ritt terdiri dari dua helai daun lontar. Ritt tersebut dihubungkan dengan lipai yang kemudian disambung
dengan badan Serune Kalee.
Pada
bagian ujung tempat meniup Serune Kalee
terdapat penahan bibir yang disebut “perise”
sebagai penahan bibir pada waktu meniup. Bentuknya agak cembung ke depan
menyesuaikan dengan bentuk bibir sehingga angin yang dihembuskan melalui bibir
tidak akan keluar.
Bahan
untuk membuat ”perise” adalah
tempurung kelapa. Bagian ini juga diukir berbagai bentuk ornamen dengan ukuran
panjang 6-8 cm dan lebar bagian tengah sekitar 4 cm. Proses pembuatan Serunee Kalee tidak didahului dengan
upacara sebagaimana yang biasanya dilakukan oleh masyarakat Aceh. (Z. H. Idris,
1993: 61).
C. NILAI-NILAI YANG TERKANDUNG PADA SERUNE KALEE
Serune Kalee merupakan peralatan musik yang banyak digunakan masyarakat
Aceh. Peralatan musik ini mengandung nilai-nilai tertentu dalam kehidupan
masyararakat Aceh. Nilai-nilai tersebut adalah:
1.
Nilai Budaya
Peralatan
musik ini merupakan satu bagian dari kebudayaan masyarakat Aceh. Pertunjukan
dan pengembangan peralatan musik ini merupakan salah satu bentuk pelestarian
budaya. Selain itu, bentuk-bentuk pelestarian itu merupakan bentuk pengembangan
kebudayaan lokal untuk dikenal oleh masyarakat secara luas. Hingga saat ini
peralatan Serune Kalee masih
digunakan, baik dalam berbagai pertunjukan yang bersifat seremonial perayaan
maupun upacara adat.
2. Nilai Seni
Serune Kalee mengandung nilai seni yang tinggi. Peralatan ini dibuat
dari bahan dan peralatan yang mudah didapatkan di sekitar tempat tinggal
penduduk. Suara khas yang dihasilkan oleh Serune
Kalee juga menjadi tanda bahwa peralatan ini mengandung keindahan tertentu.
Serune Kalee merupakan peralatan yang
cukup fleksibel, artinya dapat digabungkan dengan peralatan lain pada waktu
digunakan. Kekhasan nada dan suara yang muncul dari peralatan ini, membuat
musik yang dihasilkan ketika alat ini dipadukan dengan alat lain menjadi lebih
dinamis.
3. Nilai
Tradisi
Masyarakat
Melayu terkenal dengan kekayaan tradisinya. Salah satu tradisi tersebut adalah
pertunjukan musik Serune Kalee, baik
yang dimainkan secara tunggal maupun dipadukan dengan peralatan lain. Lebih
dari itu, Serune Kalee sebenarnya
hanya merupakan salah satu varian dari alat serunai yang banyak tersebar dan
menjadi peralatan musik masyarakat Melayu di berbagai daerah. Pertunjukan Serune Kalee dalam berbagai perhelatan
merupakan salah satu wujud pelestarian tradisi yang ada di dalam masyarakat
Melayu.
4. Nilai
Kearifan Lokal
Setiap
masyarakat, setiap daerah mempunyai pandangan sendiri-sendiri baik mengenai,
diri, orang lain, sejarah, dan kebudayaan mereka. Terdapat kearifan tertentu dalam setiap tradisi dan budaya yang
senantiasa dihidupi oleh masyarakat tersebut. Tidak berbeda halnya dengan peralatan
Serune Kalee bagi masyarakat Aceh (Z.
H. Idris, 1993: 79).
KESIMPULAN
Serune Kalee merupakan salah satu peralatan
musik tradisional masyarakat Aceh yang hingga saat ini masih dipelihara dalam
berbagai pertunjukan. Hal ini dapat menjadi salah satu tolok ukur bahwa
sebagian kebudayaan dan tradisi masih terpelihara dengan baik di masyarakat
Aceh. Hal ini dapat menjadi contoh bagi masyarakat di daerah lain dalam
melestarikan dan mengembangkan kebudayaan dan tradisi mereka.
KEPUSTAKAAN
Burhan
Firdaus, ed. 1986. Ensiklopedia Musik dan Tari Daerah, Propinsi Daerah Istimewa
Aceh. Banda Aceh: Pusat Penelitian Sejarah dan Budaya, Proyek Inventarisasi dan
Dokumentasi Kebudayaan Daerah.
Hurgronje, C.
Snouck, 2002. Bentuk Fungsi Rapa’i. Aceh: Penerbit, Matahari Production.
Idris Z.
H, 1993. Peralatan Hiburan dan Kesenian Tradisional Propinsi Daerah Istimewa
Aceh. Jakarta: Proyek Penelitian, Pengkajian, dan Pembinaan Nilai-nilai Budaya.
Sumber
Lain :
Jumat, 28 Desember 2012
Kamis, 27 Desember 2012
ACEH LAM SEUJARAH: Mencari Jejak Gayo di Loyang Mendale
ACEH LAM SEUJARAH: Mencari Jejak Gayo di Loyang Mendale: Jumat, 28 Desember 2012 11:47 WIB BOY | Foto : ZULKARNAIN Arkeolog menemukan 12 kerangka manusia prasejarah di Gayo. ...
ACEH LAM SEUJARAH: Merangkai Kembali Identitas Aceh
ACEH LAM SEUJARAH: Merangkai Kembali Identitas Aceh: OPINI | 27 December 2012 | 11:18 Iskandar Fasad, Kompasiana.com Menjelang akhir tahun 2012 ini, isu yang masih menjadi pembicaraan kh...
ACEH LAM SEUJARAH: Jejak Aceh di negeri negeri Mekkah
ACEH LAM SEUJARAH: Jejak Aceh di negeri negeri Mekkah: oleh: Adli Abdullah Sebutan negeri Aceh adalah tidak asing bagi sebagian orang Arab walaupun sekarang hanyalah salah satu propinsi di ne...
Rabu, 10 Oktober 2012
PARTAI ACEH: INILAH HASIL REKAPITULASI PEMILU GUBERNUR DARI 3 K...
PARTAI ACEH: INILAH HASIL REKAPITULASI PEMILU GUBERNUR DARI 3 K...: BANDA ACEH - Sekitar pukul 14.15 WIB rapat pleno Komisi Independen Pemilihan (KIP) Aceh yang sempat tertunda selam 3 jam kembali dimulai. ...
Partai Aceh Kota Lhokseumawe: Mualem dan 170 Ulama Aceh Gelar Doa Bersama di Mas...
Partai Aceh Kota Lhokseumawe: Mualem dan 170 Ulama Aceh Gelar Doa Bersama di Mas...: ARAB SAUDI - Wakil Gubernur Aceh terpilih, Muzakir Manaf, saat ini sedang berada di Mekkah. Subuh tadi, Muzakir Manaf yang akrab...
Partai Aceh Kota Lhokseumawe: Melihat Pemukiman Purbakala di Pedalaman Aceh Utar...
Partai Aceh Kota Lhokseumawe: Melihat Pemukiman Purbakala di Pedalaman Aceh Utar...: PEDALAMAN Mbang, di Kecamatan Geureudong Pase, Aceh Utara memiliki potensi kepurbakalaan yang luar biasa. Kesimpulan itu buah dari hasi...
Senin, 23 April 2012
Pembelajar Sejati: JANGAN JADIKAN AKU ISTRIMU...
Pembelajar Sejati: JANGAN JADIKAN AKU ISTRIMU...: Jangan jadikan aku istrimu, jika nanti dengan alasan bosan kamu berpaling pada perempuan lain. kamu harus tahu meski bosan mendengar suara...
Langganan:
Komentar (Atom)